|
Sindrom Sjogren (SS) adalah penyakit autoimun sistemik yang utamanya
mengenai kelenjar eksokrin dan biasanya memberikan gejala kekeringan
persistens pada mulut dan mata karena gangguan fungsional kelenjar saliva dan
kelenjar lakrimalis. Suatu penelitian mengungkapkan bahwa penyintas sindrom
Sjogren memiliki risiko yang tinggi dalam terjadinya penyakit periodontal.
Penelitian mengenai status periodontal pada penyintas sindrom Sjogren belum
pernah dilakukan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
hubungan status periodontal terhadap kualitas hidup (OHIP-14) penyintas
sindrom Sjogren di Indonesia dan mengetahui pandangan Islam mengenai
kesehatan rongga mulut dengan status periodontal penyintas sindrom Sjogren
dihubungkan dengan kualitas hidup. Penelitian deskriptif analitik menggunakan
desain cross-sectional pada penderita sindrom Sjogren, dengan pengisian
kuesioner oral health impact profile (OHIP-14) dan pemeriksaan status
periodontal (indeks plak, indeks kalkulus,BOP, OHIS, kedalaman poket, resesi,
dan loss of attachment). Seluruh uji bivariat yang dilakukan pada indeks plak,
indeks kalkulus, BOP, OHIS, kedalaman poket, resesi, dan loss of attachment
terhadap kualitas hidup (OHIP-14) pada penyintas sindrom Sjogren memiliki
hubungan yang tidak bermakna (p>0,05). Disimpulkan bahwa tidak terdapat
hubungan bermakna antara status periodontal dan kualitas hidup (OHIP-14)
penyintas sindrom Sjogren. Berdasarkan perspektif Islam seorang penderita
sindrom Sjogren, hendaknya menerima takdir Allah SWT atas penyakit yang
menimpanya disertai dengan berusaha tetap menjaga kesehatan dan kebersihan
rongga mulut, serta mengisi hidupnya dengan beribadah semaksimal mungkin
sesuai kesanggupannya.
|