<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="22112">
<titleInfo>
<title>EFEKTIVITAS KAUTERISASI ENDOSKOPI PADA PASIEN EPISTAKSIS DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Ahmad, Muhammad Badar Wujud</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm></place>
<publisher>Universitas YARSI</publisher>
<dateIssued>2018</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>viii, 54 hlm., 30 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Epistaksis atau yang sering disebut mimisan adalah suatu perdarahan yang terjadi di rongga hidung yang dapat terjadi akibat kelainan lokal pada rongga hidung ataupun karena kelainan yang terjadi di tempat lain dalam tubuh. Bagian dalam hidung yang dilapisi oleh selaput lendir yang selalu basah banyak mengandung jalinan pembuluh darah, di bagian depan jalinan pembuluh darah disebut pleksus kiesselbach yang bila pembuluh darah ini pecah maka terlihat mimisan. Penanganan untuk kasus epistaksis dibagi menjadi dua kelompok yaitu terapi konservatif dan terapi invasif. Terpai konservatif meliputi irigasi nasal, kompresi, katerisasi, tampon nasal anterior atau posterior. Sedangkan terapi invasif berupa ligasi arteri maksila, katerisasi endoskopik intranasal, embolisasi, dan ligasi arteri ethmoidalis anterior dan posterior. Kauterisasi merupakan salah satu penanganan epistaksis yang sering dilakukan pada perdarahan anterior dan kauterisasi endoskopi untuk perdarahan posterior, penanganan dengan kauterisasi tidak dapat bekerja jika perdarahan aktif. Kauterisasi secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan larutan perak nitrat 20 – 30% atau dengan asam triklorasetat 10%. Becker (1994) menggunakan larutan asam triklorasetat 40 – 70%. Kauterisasi tidak dilakukan pada kedua sisi septum, karena dapat menimbulkan perforasi. Selain menggunakan zat kimia dapat digunakan elektrokauter atau laser. Yang (2005) menggunakan elektrokauter pada 90% kasus epistaksis yang ditelitinya. Di dalam upaya pengobatan, Islam memerintahkan untuk berobat kepada ahlinya di bidang pengobatan, agar pengobatan dan perawatan dapat dilakukan dengan tepat. Selain itu juga harus menghindarkan diri dari penggunaan obat yang terbuat dari bahan haram. Dalam bidang medis, penggunaan kauterisasi endoskopi dikatakan efektif dalam kasus epistaksis. Hal ini juga sesuai dari segi Islam karena penggunaan tampon ini memberikan manfaat dan tidak menggunakan bahan yang diharamkan.</note>
<subject authority=""><topic>ENDOSCOPY</topic></subject>
<subject authority=""><topic>EPITAKSIS</topic></subject>
<classification></classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>Perpustakaan Universitas YARSI Library is the Brain and The Heart of The University</physicalLocation>
<shelfLocator>S-6376-FK</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">S-6376-FK</numerationAndChronology>
<sublocation>Perpustakaan 1 - Lt2 (Fakultas Kedokteran)</sublocation>
<shelfLocator>S-6376-FK</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="918" url="" path="/- Halaman Depan.pdf" mimetype="application/pdf">abstrak</slims:digital_item>
<slims:digital_item id="8931" url="http://digilib.yarsi.ac.id/4788/" path="/http://digilib.yarsi.ac.id/4788/" mimetype="text/uri-list">EFEKTIVITAS KAUTERISASI ENDOSKOPI PADA PASIEN EPISTAKSIS DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM</slims:digital_item>
<slims:digital_item id="4536" url="" path="/- Halaman Depan.pdf" mimetype="application/pdf">halaman judul</slims:digital_item>
<slims:digital_item id="4537" url="" path="/- Halaman Depan.pdf" mimetype="application/pdf">lembar pengesahan</slims:digital_item>
<slims:digital_item id="4538" url="" path="/BAB I.pdf" mimetype="application/pdf">bab 1</slims:digital_item>
</slims:digitals><slims:image>Muhammad_Badar_Wujud_Ahmad.JPG</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>22112</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-07-31 10:44:22</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-01-20 13:46:03</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>